Melangkah Melihat Dunia yang Sesungguhnya

Richard Pimentel, seorang lelaki yang memiliki masa lalu suram namun dapat mengubah hidupnya menjadi brilian. Ayah Richard meninggal dalam sebuah kecelakaan kerja dan ibunya menderita depresi berat karena tekanan hidup yang dialami.

Suatu hari ketika Richard diminta untuk mengemukakan gagasannya  di depan kelasnya (SD) ia membuat semua orang terdecak kagum dengan cerita dan gaya bahasanya dan itula awal dari penemuan bakatnya yang luar biasa. Setiap kali ada kompetisi berbicara ia selalu ikut dan menang dan ia sangat senang dengan hal itu.
Ia bertambah bahagia ketika salah satu dosen senior tertarik dengan bakatnya dan bersedia untuk memberikan beasiswa penuh jika ia bisa memberikan pidato yang luar biasa di hadapannya. Maka Richard pun berusaha memenuhi tantangan itu dengan sebaik-baiknya. Ketika selesai berpidato, dosen itu berkata pada Richard
Richard, kata-katamu sungguh luar biasa menyentuh, alurnya sangat jelas dan sungguh menarik isinya…”
Richard pun tersenyum bangga dan gambaran beasiswa sudah terlihat di hadapannya..
Namun sayang sekali, isi pidatomu itu tidak lebih dari sekedar omong kosong belaka”.
Kata-kata dosen itu membuat Richard terperanjat dan tak habis pikir kenapa sang dosen berkata demikian.
itu karena engkau belum benar-benar membuka pikiranmu akan apa yang terjadi di luar sana.. apa yang engkau ceritakan hanyalah sekedar dari informasi di radio dan koran semata, tapi engkau belum pernah benar-benar merasakan yang namanya hidup, engkau belum siap! Saranku, langkahkan kakimu menjelajahi dunia, dan kembalilah ke sini lagi ketika engkau sudah merasakan yang namanya hidup.”

Dengan perasaan marah karena kesempatan beasiswanya telah lenyap, ia bergegas keluar dari ruangan dan menuju mobilnya. Ia benar-benar marah dan dalam hatinya hanya ada satu tekad “Aku akan melihat dunia dan merasakannya. Aku pasti kembali lagi!”

Richard pun bergabung dengan angkatan darat Amerika yang dikirimkan ke Vietnam. Ia betul-betul merasakan suasana mencekam dan rasanya dekat dengan kematian. Hingga suatu malam, kampnya terkena ledakan mortir dan membuat fungsi pendengarannya cacat seumur hidup.
Selepas tugasnya sebagai tentara Vietnam, ia merasakan adanya diskriminasi untuk orang-orang yang memilki cacat atau kelainan fisik dalam halmencari kerja dan juga melanjutkan sekolahnya. Di sisi lain dengan pendengarannya yang terganggu ia kesulitan mengerti apa yang orang lain katakan. Namun dari sanalah tekadnya kembali membara untuk bisa menaklukkan kondisi  yang tidak bersahabat itu. Ia belajar sungguh-sungguh untuk dapat membaca gerakan bibir orang yang bercakap-cakap, hingga kemudian ia begitu ahli sehingga percakapan  antara dua orang pada jarak 100 meter dapat ia pahami hanya dengan melihat gerakan bibir mereka.

Richard kemudian berkenalan dengan seorang lelaki cerdas bernama Art, penderita cacat fisik motorik yang ia begitu kesulitan untuk menggerakkan anggota tubuh dan berbicara dengan baik dan benar. Sebelum Richard mengenalnya, semua orang menganggap Art sebagai orang rendahan, menjijikkan, dan hanya membawa kesulitan bagi orang lain di sekitarnya. Ketika suatu hari mereka berdua berkunjung ke sebuah restoran untuk merasyakan ulang tahun Art, keduanya justru ditangkap polisi karena menebabkan orang lain merasa terganggu dengan kehadiran orang cacat di restoran itu.

Dari sanalah kemudian keduanya berjuang menggagas gerkan kepedulian terhadap orang-orang cacat di Amerika Serikat. Sedikit demi sedikit mereka berhasil menanmkan pemahaman akan bagaimana pentingnya penghargaan terhadap hak-hak orang cacat hingga akhirnya menjadi sebuah keputusan pemerintah Amerika Serikat untuk menyediakan layanan publik yang memudahkan orang cacat untuk mengakses layanan publik layaknya manusia normal lainnya.

Richard akhirnya memenuhi tantangan sang dosen untuk melangkah melihat dunia  dan merasakan aroma kehidupan secara nyata, hingga ketika ia kembali bertemu dengan dosen itu, dosen itu berkata :
Lihatlah dirimu kini, engkau bagaikan mahasiswa paling hebat yang tidak pernah aku miliki.. aku yakin engkau telah merasakan apa yang namanya hidup sekarang bukan???”

Dan demikianlah kisah Richard Pemintel, seorang yang dengan kekurangannya telah membuat ribuan orang tergerak oleh gerakan kepeduliannya terhadap hak-hak orang cacat. Seseorang yang telah melangkahkan kakinya untuk melihat dunia dan merasakan hidup yang sesungguhnya.

From : Pemimpi luar bidahsyat


		

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s